Senin, 24 Juli 2017

Janji Surat Ke - 10

Rahasia Rasaku

By: Arinda MS


Lara terus menggenggam erat hatiku
Tak peduli rindu terus memaki rasaku
Begitu pilu ku jelaskan
Begitu sakit ku ungkapkan
           
Kiranya aku telah terjebak dalam rasa
Tak mengerti ini cinta atau hanya kagum belaka
Tapi, tanpanya aku hampa
Dan sesak semakin menjelma dalam dada

Ragu masih menjadi nomor satu dalam jiwa
Aku yakin ini bukan cinta
Aku yakin ini bukan nyata
Tapi kehilangannya aku tak kuasa

Malam menuju malam ku ungkap rasa
Dan masih tak dapat ku simpulkan ini apa
Resah ini semakin memeluk raga
Menciptakan segala macam nestapa

Apa yang sedang terjadi dalam jiwa
Apa hatiku sedang mati rasa ?
Ataukah ini semua hanya permainan saja ?
Hingga tak sedikitpun ada getaran cinta
            
Kalutku semakin mengusik waktu
Meniadakan segala bentuk macam rindu
Atas nama rasa kini ku ungkap segala raguku
Tak peduli sesak semakin menyentuh laraku

Janji Surat Ke - 9

Siksa Paham Mereka

By : Arinda MS


Kehampaan ini semakin melengkapi
Antara ada dan tiada yang silih berganti
Mungkin waktu yang dapat mengakhiri
Atas sebuah rasa saling memahami

Aku tak tahu awal mulanya dari mana
Begitu pilu ku artikan ini semua
Karena paham mereka begitu menoreh siksa
Deru ini semakin menggema dalam luka

Jarak ini semakin terasa dalam nyata
Sebab lisan mereka saling menyalahkan rasa
Kenapa begitu sempurna lisannya berkata
Menyudutkan kita atas hubungan yang tak semestinya

Terus saja mereka berpadu
Terus saja salahkan rasaku
Mencoba memisahkan jarak sampai berdebu
Sampai luka tergores dalam kalbu

Iya, dia memang berbeda
Tapi aku dan dia jauh bukan siapa – siapa
Kita hanya dekat layaknya saling menjaga
Hanya sahabat dan tak lebih dari itu semua

Aku disudutkan oleh rasa pada pandangan mereka
Aku tak tahu arah jalan pikir mereka kemana
Menciptakan nestapa pada jarak diantara kita
Sehingga kita semakin kehilangan rasa

            

Kamis, 16 April 2015

Janji Surat Ke - 8

Firasat Keraguan Dalam Terka ku
                                                                                                                              Malam 11 April 15
                                                                                                                            By : Arinda MS  
Bulan mulai berotasi pada masanya
Bintang pun tak kalah bertebar dalam malamnya
Sepertinya, malam ini tak beranjak dari malam – malam sebelumnya
Tetap sama, hanya sepi yang menjelma

Sendu ini masih beterbangan dalam lamunanku
Gundah yang masih berkeliaran dalam fikiranku
Firasat apa yang dirasakan dengan hatiku ?
Ketika solusi tak mampu menenangkan perasaanku

Apa yang kau sembunyikan?
Apa yang kau simpan?
Batinku tak mampu lagi menerka – nerka
Pada keluh siksa yang tak disangka

Firasat ini mulai memberontak
Ketika perkataanmu yang mulai berbeda dari sebelumnya
Batin ini mulai menyesak
Ketika kau tak peduli dengan perasaan yang sebenarnya

Ada yang mengganjal di fikiranmu
Ada yang berbeda di pandanganmu
Aku yang mulai ragu dengan perasaanmu
Bahkan sehari penuh tanpa senyummu

Aku terhenyak dalam lamunanku
Aku teringat bahwa pernah ada sebelum aku
Yang pasti lebih sempurna dari diri ini
Apa mungkin kau kembali ?

Apa sebenarnya yang terjadi padamu?
Apa ada yang lain selain diriku?
Apa kamu tak nyaman denganku?
Apa sebenarnya yang mengganggu fikiranmu?

Insyaratmu berbeda jauh dari sebelumnya
Letih benakku menerka batinmu
Keraguanku yang mulai tampak sebenarnya
Atas firasat lain dalam ketertutupanmu

Sungguh aku menyayangimu
Namun nyatanya aku telah terjebak
Pada lingkaran kisah kehidupanmu
Dengan segenap rasa yang kini telah terhentak

Sampai kapan kau terus sembunyi?
Sampai kapan kau buat aku begini?
Penuh keraguan yang menjadi – jadi
Bahkan kau tak berlaku sedikitpun pada hati ini


Janji Surat Ke - 7

Kenangan Itu
                                                                                                                                     By : Arinda MS   
             
Waktu telah temukan kita
Antara kau dan aku dalam satu masa
Tawamu yang selalu hadirkan bahagia
Namun kini telah hilang tak tersisa

Seribu kenangan kita lewati
Atas nama hanya sahabat kita jalani
Saling melengkapi dan memahami
Sampai kita berpisah dan berjalan sendiri – sendiri

Aku merindukan “kita”
Ketika kita saling berbagi canda
Dan kau yang selalu mengerti segalanya
Namun itu dulu ketika kita masih bersama

Sampai aku tahu...
Kepergianmu hanya karna dia lebih dariku
Aku yang memang tak sempurna dimatamu
Namun apakah ketidaksempurnaanku adalah balasan dari kepergianmu?

Aku sungguh kecewa dengan keputusanmu
Yang lebih memilih pergi dan meninggalkanku
Aku memang tak pantas lagi berharap padamu
Yang mengacuhkan dan telah melepaskanku

Dalam kegelapan kau seret aku perlahan
Atas nama luka penuh kenangan
Bersama gundah penuh tangisan
Terbayang dia yang telah lupakan

Kini ku coba relakan dan lupakan
Kepergianmu atas kisah kita dalam duka
Meski dalam hampa, nyatanya aku masih bertahan
Bertahan tanpa kepastian dalam memperjuangkan kenangan akan kisah kita

Minggu, 01 Maret 2015

Janji Surat Ke - 6

Bukan Siapa - Siapa
By : Arinda M S

     Lama sudah ku pendam ini. Atas kenyamanan yang membuatku terpaku. Rentang waktu yang semakin merusak relung hati ini. Melihat kau bersamanya sepanjang waktu. Entah apa yang ada di fikiranku. Dia miliknya! Dan itu adalah kenyataan yang harus ku terima. Tak berhak aku untuk cemburu. Memangnya aku siapa? Jauh bukan siapa - siapa di hidupnya, Tapi masih tak dapat ku relakan. Perhatiannya yang membuatku bertahan.
     Tapi itu dulu, ketika kita masih sedekat nadi. Dan setelah aku mengetahuinya, bahwa kamu masih miliknya. Perlahan kita mulai jauh dan tak sedekat dulu. Kau hadapkan aku dengan sikap perhatianmu yang kini semakin memudar. Dan aku sangat merasakan akan hal itu. Lalu, apa dayaku? Pantaskah aku untuk marah? Pantaskah aku untuk cemburu? Sedangkan kini aku hanya berstatus "Bukan Siapa - Siapa".
     Kenyataan ini semakin membuatku mengerti. Dia lebih berharga. Dia lebih baik. Dia jauh lebih mengertimu. Aku paham, aku yang salah, aku yang terlalu berharap lebih. Aku sadar aku harus pergi perlahan. Ketika rasa ini telah jauh darimu. Ketika aku terus selalu berusaha keras untuk pergi. Kenapa engkau harus hadir lagi? Hadir dalam hariku lagi. Kenapa engkau begini? Sadarkah? Selama ini aku diam. Selama ini aku mencoba terima perlakuanmu itu. Kau ceritakan semua perasaanmu. Tahukah kamu? Bagaimana rasanya? Saat kau khawatir, kecewa, sedih, panik, marah hanya karna dia sibuk dan tak membalas pesanmu. Sedangkan, apa kau tahu perasaanku? Ketika kau tak membalas pesanku hanya karna kau sibuk dengan dia. Aku tersenyum dan aku hanya berpura - pura tidak terjadi apa - apa denganku, dengan hatiku. 
     Oh, aku lupa.. Pantaskah aku merasakan hal itu? Pantaskah aku menuntut lebih perhatianmu? Aku lupa aku bukan siapa - siapa. Tak pantas aku untuk merasakannya. Tapi, apa kau tahu bagaimana rasanya memendam luka? Sepertinya kau paham betul akan hal itu. Tolong, kali ini aku pergi dan tak ingin mengusikmu dengan dia. Aku tahu, aku tak pantas berkata begini. Semoga kau mengerti kepergianku. Karena aku telah sadar, "Aku Bukan Siapa - Siapa" untukmu, untuk hatimu, dan untuk hidupmu.

Janji Surat Ke - 5

Sepertinya Aku Mencintaimu
By : Arinda M S

Entah apa yang ada di fikiranku
Aku tersesat jauh dari jalanku
Karena dia yang aku puja dalam hatiku
Telah sekian lama rasa ini ku pendam dalam hidup dan matiku
Menunggu dia peka terhadap apa yang aku rasa waktu itu
Sepertinya aku mencintaimu
Pada setiap percakapan kecil yang berubah menjadi perhatian sederhana yang kau perlihatkan padaku
Sepertinya aku mencintaimu
Dengan kebisuan yang kau sampaikan padaku
Kita hanya berbicara lewat tatapan mata
Sepertinya aku mencintaimu
Karena sering merindukanmu
Karena aku bahkan tak tahu mengapa aku begitu menggilaimu
Sepertinya aku mencintaimu
Kepadamu yang masih saja tak mengerti perasaanku
Entah, aku masih saja bingung dengan apa yang aku rasakan
Ini cinta atau hanya ketertarikan sesaat?
Lalu, mengapa aku merasa sangat rindu ketika kau tak hadir dalam malamku?
Mengapa aku merasa cemburu saat kau dekat dengan orang yang bukan aku?
Hatiku masih saja bertanya - tanya dalam keadaan ini
Andai saja kau tahu
Aku selalu memperhatikanmu dalam tatapan mataku
Namun selalu mengalihkan pandangan saat matamu beralih kepadaku
Aku mungkin hanya bermimpi untuk mendapatkan pria setinggi kamu
Namun, apalah dayaku, tak dapat ku pungkiri perasaanku
Aku terlalu berharap kepadamu
Salahkah bila kamu ku nomor satukan
Salahkah bila aku selalu memujamu
Tanpa sadar, namamu selalu ku ucap dalam setiap do'aku
Namun, aku juga baru menyadari  kau bukan milikku
Tak pantas aku berharap setinggi itu

Janji Surat Ke - 4

Perkenalan Itu
By : Arinda M S


Aku teringat saat pertama kali mengenalmu
Nuansa berbeda ku rasakan saat berada di sampingmu
Deretan titinada sendu ikut menjadi saksi atas perkenalan kita waktu itu
Inikah awal dari timbulnya perasaan itu?

Menimbulkan rasa bahagia yang berbeda
Andai kau tahu bagaimana rasanya
Untaian kata manismu dulu, telah menimbulkan harapan yang tak pernah ku rasa sebelumnya
Fatamorgana lisanmu yang membuat aku percaya
Alangkah bahagianya ketika perhatianmu masih ada
Laksana musim gugur yang berubah menjadi musim semi dalam durasi yang begitu cepatnya

Fikiranku selalu terbayang oleh dirimu
Akankah ini yang dinamakan cinta semu?
Dalam diam ku ratapi perasaanku
Letih hatiku menahan rasa rindu kepadamu
Isyaratmu yang kini tak hadir lagi dalam hari - hariku
Lupakan semua tentang kau dan aku di masa lalu